Perspektif Global (12)

Mungkinkah krisis yang terjadi di Eropa ini dapat diatasi?

934244
Perspektif Global (12)

 

Kami pernah menyebutkan dalam tulisan-tulisan kami sebelumnya, bahwa semakin banyak rasisme, fasisme, anti-Islamisme, berbagai bentuk ancaman kehidupan, dan perdebatan tentang umat Islam dan imigran yang ada di Eropa, merupakan krisis tersendiri bagi Eropa.

Kami akan sajikan kajian dari Prof. Dr. Kudret BÜLBÜL, Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt Ankara....

Sebelumnya, aku telah membahas isu-isu yang ada di Eropa dan di Turki pada tanggal 28 Februari. (http://www.star.com.tr/acik-gorus/avrupayi-28-subatindan-kim-cikaracak-haber-1168353/) Menurut Kementerian Dalam Negeri Jerman, pada tahun 2017, tercatat ada 950 serangan di negara tersebut yang ditujukan kepada umat Islam dalam kurun waktu satu tahun. (sekitar 3 serangan per hari), situasinya nampaknya telah melampaui hal tersebut.

Mungkinkah krisis yang terjadi di Eropa ini dapat diatasi?

Pertama-tama, kita harus fokus pada penyebab krisis tersebut.

Ketidakpastian global: dengan perkembangan yang terjadi di AS, Rusia, Cina, Turki, India dan Amerika Latin, setelah Perang Dunia ke-2, tatanan yang mapan telah retak kembali. Ketidakpastian ini menciptakan ketegangan dan ketidaknyamanan di negara-negara tertentu. Aliansi tradisional dan permusuhan tercipta kembali. Dalam hal ini, hubungan antar negara sedang dirancang ulang. Alih-alih menghalangi aliansi dan antagonisme antar negara, aliansi berbasis subjek atau antagonisme menjadi semakin menonjol.

Tidak cukup untuk mengambil keuntungan dari globalisasi Barat: era globalisasi Eropa dan AS belum cukup untuk memberikan keuntungan. Negara-negara seperti China, India, Brazil, dan Turki yang lebih banyak mendapatkan keuntungan dalam hal ini. Oleh karena itu, beberapa negara, terutama Amerika Serikat, membela kebijakan liberalisasi perdagangan bebas, penghapusan adat istiadat, yang sebelumnya merupakan hal yang diutamakan. Resesi ekonomi di Eropa, yang dipicu karena ketidakmampuan dalam memperoleh keuntungan dari era globalisasi, telah memicu memperburuk aspek politik, sosial, ekonomi dan psikologis.

Retorika dan praktik di Barat yang berkembang dengan cepat ke arah antagonisme globalisasi. Hal ini dapat dipahami bagi Barat. Namun globalisasi yang terjadi di negara-negara seperti Turki, dimana kaum intelektual dan para politikus mengkampanyekan retorika yang anti-globalisasi mereka, timbul pertanyaan apakah mereka menyadari realitas baru ini.

Tidak adanya sejarah pluralistik di Eropa: Salah satu alasan utama krisis di Eropa adalah kenyataan bahwa globalisasi identik dengan keberagaman identitas dan budaya. Keberbedaan yang berada di tempat jauh, diterima baik di daerah asalnya. Namun saat berada di pintu tetangga dan kolega, situasinya menjadi berbeda. Karena Eropa tidak memiliki multi identitas. Pengalaman orang-orang Eropa hidup dengan pluralisme dan perbedaan hanya ada di abad-abad terakhir.

Para pemimpin yang tidak memiliki visi: Partai-parta kiri dan kanan di Eropa banyak yang mengadopsi wacana yang memarjinalkan hanya untuk menghindari hilangnya suara, daripada mengkampanyekan ide-ide yang sehat. Situasi ini seakan tidak dapat mencegah partai neo-nazi dan neo-fasis untuk tidak naik, sehingga menjadikan partai-partai sayap kanan dan kiri menjadi semakin ekstrem. Alhasil, kekuatan politik di Eropa beralih ke partai-partai yang lebih ekstremis.

Penolakan proses asimilasi: Beberapa kelompok yang mempunyai masalah dengan negara mereka sendiri mencari perlindungan di Eropa dan mendominasi arena politik, jika mereka tidak memiliki perlindungan sosial, maka hubungan antara negara yang mereka tinggali dengan negara asal mereka akan dapat terganggu. Orang-orang di Eropa dituntut untuk dapat berasimilasi, namun di sisi lain, orang-orang yang menolak untuk berasimilasi karena ingin menunjukkan jati dirinya, hidup dengan identitas dan budayanya sendiri, sangat bersikap keras kepada kaum pendatang (migran).  

Kegiatan organisasi teroris yang berasal dari negara-negara imigran, yang telah menguasai Barat dan juga sektor hukum merupakan salah satu elemen kelompok yang merusak hubungan Eropa dengan negara-negara ini.

Jika alasan krisis Eropa bisa dijelaskan sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, maka tidak ada harapan bahwa krisis ini dapat segera diatasi dalam waktu yang singkat. Karena persoalan di atas bukan hal yang mudah. Di masa lalu, ketika  mereka dihadapkan dengan krisis, para pemimpin visioner yang mau mengambil risiko dapat membenahi negara mereka sendiri. Sayangnya, jumlah pemimpin yang visioner seperti ini di Eropa semakin hari semakin berkurang.

Kaum intelektual juga dapat memainkan peran penting dalam situasi seperti ini. Adakah kesadaran yang cukup dari kelompok liberalis dan pluralis Eropa tentang bagaimana caranya dapat keluar dari krisis telah terjadi di Eropa ini? Para kaum intelektual dahulu yang tinggal di masa Nazisme Jerman dan Fasisme Italia tidak menyadari perkembangan seperti ini. Namun upaya kelompok intelektual tidak cukup untuk menghentikan krisis dan membalikkan keadaan. Karena, gagasan mereka semakin hari semakin dibatasi. Partai-partai rasis terus bertambah. Kebebasan semakin terpasung. Untuk memasung kebebasan hak kaum Muslim dan kaum migran, keberagaman disingkarkan dan diabaikan.

Saya tidak berharap Eropa akan semakin tenggelam ke dalam krisis ini. Namun kali ini Eropa tidak menyadari kesalahannya. Masa depan semakin gelap  karena kebebasan hak semakin dibatasi dan ini akan menyeret mereka sendiri.

Demikian kajian dari Prof. Dr. Kudret BÜLBÜL, Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt Ankara....

 



Berita Terkait