Zaman Moden dan Ramadan

Kami akan sajikan kajian dari  Prof. Dr. Kudret BÜLBÜL, Dekan Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt Ankara ...

Zaman Moden dan Ramadan

Mari saya mulai pembahasan ini dengan kalimat kutukan Cina "Semoga Anda hidup di zaman yang menarik". Saya tidak tahu persis apa maksudnya, tapi pada saat Cina memiliki segalanya, di tengah-tengah manusia modern terjadi inidiviualistik dan krisis yang tidak berharga, haruskah terjadi demikian di era yang menarik ini.

 

Sedihnya Manusia Modern….

Memang, manusia yang individualis di zaman modern lebih menyedihkan daripada spesies makhluk hidup yang lain. Manusia modern memberontak melawan alam, tradisi, agama, nilai-nilai, segala macam keterbatasan, dan ia telah menyatakan keilahiannya, hanya dengan mematuhi otoritas pikirannya. Kecerdasan dan upaya yang mereka lakukan digunakan untuk hal-hal yang negatif. Tetapi ciptaannya tidak kekal, namun fana.

Dalam periode sejarah lain, saya tidak tahu apakah ada periode lain yang tidak hidup dalam keberadaan, kesepian di antara massa, keputus-asaan dalam semua jenis peluang karena keinginannya yang tak terbatas sebagai manusia modern.

Manusia modern.. Budak konsumerisme... Suatu entitas yang menciptakan suatu sifat, barang, prinsip, nilai, tradisi, dan sekali pakai.

Untuk menyelamatkan  manusia modern dari keegoisan yang mementingkan diri sendiri, berhentilah sejenak dan katakan, sebagaimana yang disebutkan Necip Fazıl, "hentikan orang banyak di jalan buntu ini / berteriak dengan membuka tangan saya seperti gunting," bukankah kerangka waktu akan bergetar dan berputar kembali ke diri sendiri? Saya bertanya-tanya apakah akan ada tradisi semacam itu di antara agama, ideologi, dan gaya berpikir, Ramadhan mungkin merupakan jawaban untuk pencarian semacam itu.

Makna Puasa

Apa yang bisa menyelamatkan manusia modern dari krisis, keegoisan dan kesunyiannya ini adalah sikap bahwa ia tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri. Itu bukan lelucon. Ramadhan adalah bulan yang akan membuat orang beristropeksi diri dengan semua yang mereka lakukan dan tidak lakukan.

Saat ini, tiga masalah kemanusiaan yang paling mendasar dan mungkin tidak ada bandingannya adalah ketidakadilan, disonansi, dan perbedaan. Bulan Ramadhan adalah bulan yang bisa menyelesaikan semua kekurangan ini.

Berpuasa mungkin setidaknya merupakan waktu dimana orang menahan diri untuk tidak makan dan minum. Selebihnya adalah meninggalkan nikmat-nikmat tubuh,  degan cara menyeleksinya atau mengendalikannya.

Puasa adalah nama lain untuk membebaskan manusia dari ikatan konsumerisme.

Puasa di bulan Ramadhan bukan hanya sekedar persoalan perut. Tetapi juga soal bahasa lisan, pikiran dan sikap. Ramadhan adalah peluang untuk membersihkan seluruh tubuh kita dengan segala jenis dosa. Terutama untuk membersihkan hati. Ini adalah detoksifikasi manusia yang terus-menerus berusaha memiliki lebih dari yang dimiliki orang lain. Ini adalah penangkal ketidakpuasan, semacam ketidakpuasan ketika telah memiliki segalanya.

Bulan untuk berbagi dan penuh berkah..

Ramadhan merupakan bulan untuk berbagi, bersolidaritas dan bersatu antara berbagai pengucap bahasa, berbagai ras, berbagai warna kulit dan berbagai ideologi. Mungkin ini merupakan refleksi paling estetik dari nilai-nilai universalitas Islam. Dalam undangan buka puasa bersama yang diadakan dalam tradisi masyarakat Muslim, tidak pernah ditanyakan apa yang terjadi pada orang itu. Sebagaimana penciptaan lumba-lumba yang diciptakan untuk mengekspresikan sebuah kesenangan.

Pesan universal dan kebersamaan dalam iftar juga dirasakan oleh masyarakat non-Muslim. Komunitas Muslim berbagi buka puasa dengan tetangga dan non-Muslim. Beberapa negara merasakan pesan universal ini. Setiap tahun, program buka puasa diadakan di Gedung Putih dan beberapa tempat negara bagian barat.

Di bulan Ramadhan, Turki adalah salah satu negara yang memberikan bantuan melalui sebagian besar organisasi masyarakat sipil dalam dan di luar negeri, ke seluruh anak yatim dan tunawisma yang ada di dunia. Bukan hanya sekedar kegiatan sukarela, tetapi juga menyalurkan bantuan kepada orang-orang yang berhak mendapatkan zakat fitrah, sadaqah dan zakat (lainnya). Selain itu, bagian-bagian ini juga merupakan kontribusi yang sangat penting bagi perdamaian dunia dengan mencegah orang menyimpang dari kesalahan, seperti pemerasan, perampokan, penjarahan, dan teror. Meskipun bukan negara yang paling kaya, Turki adalah negara dengan posisi tertinggi dalam memberikan bantuan, tidak hanya untuk tunawisma tetapi juga menawarkan untuk berkontribusi dalam perdamaian dan ketenangan.

Statistik menunjukkan bahwa tingkat kejahatan di bulan Ramadhan menurun.

Bulan untuk berinstropeksi diri, berzikir dan berdamai

Ramadan sangat terlihat di Turki. Orang-orang berbuka puasa, sahur, shalat tarawih, malam lailatul qadar dan siskamling pembangun sahur. Kegiatan-kegiatan ini adalah kegiatan yang merangkul seluruh masyarakat. Kegiatan Ramadhan tidak pernah membuat yang lain tersasingkan. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa bangsa kita adalah salah satu negara langka di dunia yang dapat mewujudkan keberadaannya tanpa mengasingkan yang lain.

Ramadhan adalah bulan untuk berzikir, berinstropeksi, dan berdamai.  Ziara kubur mengingatkan kepada mereka yang masih hidup. Dalam kata-kata penyair Sezai Karakoç, "itu memberi kita mata air yang bangkit dari kuburan." Ziarah kubur ini mengingatkan kita akan kefanaan kehidupan dunia dan menempatkan posisi ontologis kita di alam semesta. Masalah besar yang tidak dapat kita selesaikan, objek yang kita lihat sangat diperlukan, begitu banyak hal yang kita kejar.

Ziarah kubur memperbaiki pandangan dan sikap kita.

Ramadhan juga merupakan bulan rekonsiliasi, di mana kebencian direkonsiliasi. Itu adalah bulan ketika tetangga, saudara, teman, dan sahabat dikunjungi. Merayakan pesta, liburan,  persahabatan dan kerinduan untuk bercakap-cakap. Untungnya, di Turki, menurut statistik, 84% orang-orang di Turki melakukan silaturrahim, berkunjung ke kerabat mereka.

Izinkan saya mengakhiri kata-kata saya:  Bulan Ramadhan adalah bulan yang harus dibawa ke warisan budaya  dunia UNESCO dengan kontribusi yang diberikannya pada berkah, dan perdamaian dunia yang membebaskan orang modern dari rantai mereka, membebaskannya dari lingkungan, masyarakat, makhluk lain, dan alam. Atau, jika kontribusi untuk perdamaian dunia harus diberikan kepada apa pun selain orang atau lembaga, kandidat yang paling tepat adalah bulan Ramadhan.

Selamat hari raya idul fitri..

 

Demikian kajian dari  Prof. Dr. Kudret BÜLBÜL, Dekan Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt Ankara ...

                                                                



Berita Terkait