Islam Eropa

Kami akan sajikan kajian dari Prof. Dr. Kudret BÜLBÜL, Dekan Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt Ankara

Islam Eropa

Islam Eropa di Eropa kini menjadi perdebatan yang sengit. Secara umum, pihak-pihak yang terlibat dalam perdebatan isu Muslim di Eropa adalah negara-negara Eropa, lembaga keamanan, akademisi dan penulis Barat.

Asal mula dari sebuah perdebatan, pada dasarnya adalah bukan perdebatan itu sendiri. Dengan adanya proses globalisasi, manusia yang berasal dari identitas, budaya, agama, dan bahasa yang berbeda dapat saling terhubung dan hidup bersama. Koeksistensi ini berlaku di negara-negara seperti pada masa kekhalifahan Turki Usmani, namun ini merupakan hal yang baru di Barat. Dapat dikatakan bahwa pada abad-abad sebelumnya negara-negara Barat menjajah negara-negara yang memiliki agama dan budaya yang berbeda dan kini mereka harus mengahadpi gelombang migrasi dari negara-negara tersebut yang berhijrah ke Barat. Periode ini adalah periode modern, dimana negara-bangsa lebih bersifat terpusat dan monistik sehingga sulit untuk menerima perbedaan.

Budaya Eropa yang sesuai dengan Islam

Jika orang-orang yang memiliki sejarah, agama dan budaya yang berbeda lebih banyak yang hidup bersama, maka konsekuensinya adalah negara, lembaga dan kaum intelektual akan banyak berkaitan dengan masalah ini.

Hal ini cukup dapat dimengerti jika Islam Eropa tidak dimaksudkan untuk menekankan praktik-praktik (atau kultur) Islam yang berbeda yang berasal dari luar Eropa, tetapi lebih mengangkat kultur yang ada di Eropa yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Apa yang dimaksud dengan Islam Eropa adalah bahasa, budaya, metode, yang ada di Islam Eropa itu sendiri. Dalam konteks ini, Islam yang ada di Turki, memiliki kultur yang berbeda dengan Islam yang ada di Timur Tengah, negara-negara Balkan dan Asia Timur. Cukup dimengerti bahwa Muslim Eropa mengadopsi praktik dan pemahaman Islam yang sesuai dengan letak geografis mereka tinggal. Jika praktik kehidupan keseharian, budaya, cerita rakyat, seni dan sastra yang ada di Afrika dan Timur Tengah saja tidak dapat diterapkan di negara-negara seperti Turki, maka hal ini tidak dapat diaplikasikan di Eropa juga. Pada dasarnya, situasi yang tidak dapat diterima ini bukan karena ketidakakuratan elemen budaya tersebut, tetapi karena setiap masyarakat memiliki elemen budaya sendiri sesuai dengan letak geografis mereka tinggal. Terlepas dari semua ini, bisa jadi karena mereka ingin tetap hidup dalam masyarakat yang terbuka dan beradab, dengan mempertahankan budaya mereka sendiri dan menjaga budaya mereka dari pengaruh budaya luar.

Budaya eropa yang sesuai denga nilai-nilai Islam bukan hanya yang datang ke Eropa saja, tetapi juga yang lahir dari Eropa itu sendiri. Jika kita ingin membicarakan budaya Eropa yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, maka kita harus membuang unsur-unsur seperti rasisme, fasisme dan Nazisme yang ada dalam genetika budaya Eropa. Dalam beberapa kasus, tekanan terhadap Islam Eropa juga dilakukan untuk menunjukkan bahwa mereka yang datang ke Eropa tidak memiliki nilai-nilai universal seperti persamaan, kebebasan, hak asasi manusia, pluralisme, dan koeksistensi untuk hidup bersama. Atau mungkin dapat dikatakan bahwa Eropa telah menjauh dari nilai-nilai ini. Dalam hal ini, yang muncul dalam fikiran kita adalah gelombang pengungsi yang tak terhitung, bertambahnya imigran dan meningkatnya sikap anti-Islam. Dalam sebuah penelitian opini publik, disebutkan bahwa rasio sikap orang-orang yang memiliki akar rumput yang berbeda yang menginginkan rekan kerjanya dan tetangga rumahnya sama dengannya, semakin meningkat.

Pendekatan Islam Eropa yang penuh dengan kasih dan rasa aman, bukan yang libertarian

Jika kita melihat apa yang ditulis dan praktikkan di negara-negara Barat, perdebatan tentang Islam Eropa tampaknya tidak menjadi perdebatan yang menyangkut dengan warga sipil, budaya dan nilai-nilai yang ada. Negara-negara Eropa lebih banyak menggunakan isu kemanan dalam menyikapi perdebatan ini. Oleh karena itu, isu ini kebanyakan tidak disikap secara budaya, koeksistensi, pluralisme, perbedaan, tetapi lebih pada konteks keamanan, intelijen dan institusi keamanan.

Tentu saja, jika ada masalah keamanan, mereka akan mengambil langkah-langkah keamanan. Hal ini tidak terbantahkan. Tetapi kebanyakan dari mereka lebih banyak menggunakan pendekatan atau perspektif keamanan dalam menyikapi isu-isu sipil, sosial, kultur dan politik. Sangat mudah dipahami bahwa negara tidak akrab dengan memasang papan untuk menghalau terjadinya situasi baru. Tetapi upaya-upaya ini harus diarahkan pada tingkat nalar pemahaman. Bukan menundukkan, mengubah dan mengutuk. Oleh karen itu negara-negara Eropa  harus mendorong pembentukan dewan yang terkait dengan isu ini yang terdiri dari umat Islam, dari pada menuduh nama-nama orang secara langsung, padahal sebagian besar dari mereka tidak terkait dengan Islam. Kegiatan-kegiatan ini harus dikerjakan oleh organisasi sipil, bukan instansi keamanan atau lembaga intelijen.

Tuduhan kepada umat Islam…

Dalam konteks Islam Eropa, menuduh umat Islam secara keseluruhan padahal hanya dilakukan oleh sebagian dari mereka dan mengkritik negara-negara yang bersangkutan bukan sikap yang bermoral. Jika umat Islam yang tinggal di Barat saat ini memiliki masalah pendidikan, ekonomi, politik, intelektual, akademik yang tinggi, dan budaya kerja tidak sesuai standar, tentu ada tanggung jawab besar yang pegang oleh umat Islam dan organisasi mereka. Demikian juga, di negara tempat mereka tinggal, perlu ditunjukkan masalah representasi dan ekspresi. Mereka diharapkan dapat bekerja sama yang erat dengan pihak berwenang yang ada di negara yang bersangkutan, untuk membangun hubungan yang langsung dan terbuka, serta berupaya untuk mengikis phobia-phobia yang ada.

Apa yang dibawa Islam untuk Eropa?

Yang ingin dicapai oleh Islam Eropa adalah diterapkannya nilai-nilai Islam di masyarakat, keluarga dan setiap individu. Namun jumlah keluarga yang retak, anak-anak terlantar, pelaku hubungan homoseksual dan pengguna narkoba di Eropa jauh lebih besar jika dibangingkan dengan bagian dunia lainnya. Dalam hal ini, nilai-nilai sosial yang ada di Eropa mengalami kemrosotan. Karena tingkat kepuasan ekonominya yang tinggi, orang-orang mengalami periode kebobrokan di mana hubungan yang sah dan normal mulai terkikis. Nilai-nilai Islam mungkin menjadi benteng terakhir yang belum dipegang. Oleh karena itu tuduhan terhadap umat Islam terkait masyarakat, keluarga dan indivu hanyalah mempercepat keruntuhan Eropa.

Umat Kristiani dan Yahudi harus memberikan dukungan kepada Islam

Saya pikir, Umat Yahudi dan Kristen juga tidak nyaman dengan terkikisnya nilai-nilai sosial dan moral yang terjadi di msyarakat. Demikian juga, para sekularis yang tidak nyaman dengan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan. Pada dasarnya, mereka harus sama-sama bereaksi atas mengikisnya nilai-nilai ini, yang juga melekat dalam agama Kristen dan Yahudi.

Muslim Eropa harus mendominasi agenda mereka

Di luar semua itu, apapun caranya umat Islam juga harus mendominasi agenda mereka sendiri di Eropa, Amerika, China, India, dan Timur Tengah? Mari kita lanjutkan pekan depan.



Berita Terkait