Analisis Agenda (32)

Kami akan sajikan kajian dari Can ACUN, Peneliti SETA (Lembaga Penelitian Politik, Ekonomi dan Masyarakat).

Analisis Agenda (32)

Rasisme dan Islamophobia di eropa semakin meningkat. Tampaknya unsur-unsur utama Uni Eropa beroperasi di Jerman dengan cara yang sama dengan tren Sosialis Nasional yang pernah terjadi pada masa lalu. Mesut Özil, seorang pemain bintang Tim Nasional Jerman mendapatkan perlakuan skandal di Jerman dimana rasisme dan islamophobia tengah diobati, mendorong ia untuk memutuskan keluar dari Tim Nasional negara tersebut. Dan ini adalah fakta yang memprihatinkan.

Foto bersama yang dilakukan oleh Mesut Özil dengan Presiden Recep Tayyip Erdoğan yang saat itu tengah melakukan kunjungan ke Ingris, telah menuai reaksi keras dari media-media Jerman, para politisi dan masyarakat yang ada di jerman sebelum kompetisi Piala Dunia digelar. Özil sering mendapatkan serangan rasis karena telah melakukan foto bersama dengan Presiden Recep Tayyip Erdoğan. Mesut Özil, bintang tim nasional Jerman, telah mendapatkan penghinaan dan ancaman rasial. Meskipun Özil mendapatkan penghinaan dan ancaman, ia hanya diam, dan tidak mau meminta maaf sebagaimana yang diminta oleh Presiden Federasi Sepakbola Jerman Reinhard Grindel.

Media-media Jerman mengatakan bahwa isu foto Mesut Özil adalah penyebab kegagalan Tim Nasional Jerman dalam Piala Dunia. Presiden Asosiasi Sepakbola Jerman, Reinhard Grindel juga menuduh Özil adalah pemain yang paling harus bertanggung jawab dalam hal ini. Sebelum isu foto bersama Presiden Erdoğan, Mesut Özil juga pernah mendapatkan serangan Islamophobia akibat foto ibadah umroh yang pernah ia bagikan.

Mesut Özil melakukan manifesto penting. Dengan keberaniannya, ia melakukan manifesto itu melalui akun Twitter-nya. Ia menelanjangi masalah rasis dan Islamophobia yang ada di Jerman; "Ketika menang saya Jerman, tetapi ketika kalah saya imigran," tulisnya. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Mesut Özil sama halnya yang pernah dilakukan oleh Muhammad Ali. Mesut Özil yang telah memberikan kritik keras kepada Federasi Sepak Bola Jerman, menyuarakan kepedihan yang dialami oleh orang-orang Turki dan umat Islam yang ada di Jerman.

Dalam Manifesto itu, rasisme yang ada di Jerman terlihat dengan menggunakan pendekatan ambivalen dan sama-sma menjadi detak jantung bagi Jerman dan Turki. Pembelaan yang dilakukan Özil atas foto yang dilakukannya bersama Presiden Recep Tayyip Erdoğan, meskipun dedikasi tinggi telah ia berikan dan kesuksesan besar telah ia raih, namun ia tetap mendapatkan serangan rasis, merupakan representasi dari sikap yang dialami oleh orang-orang Turki yang ada di Jerman. Melalui media sosial, orang-orang Turki yang ada di Jerman menganggap Mesut Özil sebagai pahlawan.

Manifesto Özil merupakan suara bagi orang-orang Turki dan umat Islam yang ada di Jerman. Namun mengapa seorang pemain bola tidak dianggap mewakili pemikiran dan perasaan kaum minoritas Turki dan umat Islam? Anggota perlemen kelahiran Turki yang ada di parlemen Jerman dan partai-partai politik Turki dan perwakilan minoritas Muslim yang ada di Jerman, merupakan isu besar bagi Jerman yang harus diselesaikan. Di satu sisi, dari hari ke hari rasisme dan Islamophobia di Jerman selalu meningkat. Sementara di sisi lain, tidak ada parlemen yang mewakili orang-orang Turki dan Muslim di Jerman.

Turki perlu memlakukan langkah politik yang lebih efektif dan aktif di Jerman, untuk melindungi hak-hak orang Turki dan Muslim yang tinggal di Jerman dan memberi mereka kepercayaan diri, khususnya setelah terjadi insiden ini. Untuk membuat kehadiran Turki di Jerman semakin terasa, Turki akan mendorong orang-orang Turki dan umat Islam yang ada di Jerman untuk lebih berani dan menjadi Mesut Özil-Mesut Özil yang baru. Namun jika Turki tidak menerapkan kebijakan yang efektif dan aktif  di Jerman, maka rasisme dan Islamophobia yang menyerang orang-orang Turki dan umat Islam yang ada di Jerman akan semakin meningkat.

 



Berita Terkait