Pandangan Kebijakan Luar Negeri Turki (18)

Kami akan sajikan kajian dari Dr. Cemil Doğaç İpek, Asisten Penelitian, Departemen hubungan Internasional, Universitas Atatürk...

Pandangan Kebijakan Luar Negeri Turki (18)

          Ketegangan di Laut Aegea yang terletak diantara Yunani dan Turki telah memasuki babak baru. Kami akan menganalisis ketegangan ini dan refleksinya dari Kebijakan Luar Negeri Turki dalam program mingguan kali ini.

         Ketegangan di Laut Aegea yang terletak diantara Yunani dan Turki telah memasuki babak baru. Ketegangan hubungan yang terjadi baru-baru ini disebabkan karena Yunani melindungi ratusan anggota FETÖ (kelompok yang terlibat dalam kegiatan teroris dan upaya kudeta) dan menolak untuk mengembalikan anggota militer FETÖ.

          Perkembangan yang terjadi beberapa tahun terkhir ini, terekam dalam ingatan ASALA dan beberapa kamp yang dibuka untuk PKK, serta dukungan untuk pemimpin PKK Abdullah Öcalan. Pada titik ini, diperkirakan bahwa pengadilan Yunani telah memasuki lingkaran politik, setelah adanya keputusan untuk mengekstradisi anggota FETÖ yang ilegal ke tentara terlebih dahulu. Dalam hal ini, terlihat dari opini publik adanya klaim yang menunjukkan keterlibatan Jerman.

          Namun, perlu dicatat bahwa ada pernyataan yang profokatif dari Kementerian Pertahanan Yunani yang melawan Kementerian Luar Negeri Turki tentang ketegangan yang terjadi laut Aegea. Diketahui adanya operasi dari Yunani ke Aegea, yaitu dengan ditangkapnya dua tentara Yunani di wilayah Turki. Namun, mereka menyadari bahwa dengan kekuatan militer yang kecil, Pemerintah Yunani tidak akan dapat mengancam Turki. Sikap ini dapat dianggap sebagai pengingat bagi warga Yunani dan pesan kepada para pemodal di Uni Eropa. Oleh karena itu, dengan meningkatkan persepsi adanya ancaman terhadap wilayah Uni Eropa, mereka akan mendapatkan dana tambahan dari anggaran Uni Eropa.

          Menteri Pertahanan Yunani, Kammenos, merupakan representasi mereka yang mengupayakan langkah ini. Tetapi ketegangan ini tidak benar-benar untuk kepentingan Yunani. Reaksi yang muncul dari publik Yunani tentang hal itu, merupakan indikasi masih adanya kelompok yang moderat di Yunani yang menilai Turki.

          Dalam beberapa minggu terakhir, Menteri Pertahanan Yunani, Kammenos, yang menyampaikan pidatonya kepada tentara Yunani yang tengah berlatih di laut Aegea, mengatakan bahwa “Turki adalah musuh yang provokatif,” negaranya telah mengirim 3.500 pasukan tambahan ke pulau-pulau Yunani yang ada di Laut Aegea dan akan mengirim 3.500 tentara tambahan dalam beberapa hari yang akan datang untuk menarik garis perbatasan darat antara Sungai Meric dan Turki.  Pernyataan Kammenos di Aegea tidak hanya dimuat di media-media Turki tetapi juga di media-media Yunani. Bahkan sebelum pernyataan itu disampaikan, media Yunani secara singkat memberitakan bahwa Perdana Menteri Yunani, Alexis Chipras, telah bertemu dengan Kammenos dan memperingatkannya tentang pernyataannya itu.

          Dalam isu konflik sumber gas alam di Mediterania Timur, Yunani dan Siprus Selatan merespon dengan melakukan latihan serupa di Laut Aegea Turki,  Athena jug terlibat dalam persiapan latihan serupa, sebagai bentuk provokasi kepada Turki.

          Pembukaan pulau-pulau milik Turki di Aegea yang dilakukan oleh Yunani dan pada akhirnya dapat dikatakan sebagai bentuk pendudukan yang didukung oleh Kammenos. Aslinya pendudukan yang dilakukan oleh Kammenos di pulau-pulau Turki dan pernyataan provokatofnya merupakan bentuk kekecewaanya. Jika hal ini tetap berlanjut, maka akan tercipta ketidakstabilan politik baru di Yunani.

          Ada banyak persoalan yang perlu dicarikan solusinya untuk dapat menyelesaikan sengketa antara kedua belah pihak ini, sementara pihak Yunani terus menyuplai senjata ke pulau-pulau yang seharusnya tidak bersenjata. Tentu saja, memunculkan banyak pertanyaan besar yang perlu dijawab pada saat ini. Salah satunya adalah isu papran benua (continental shelf) di Laut Aegea. Meskipun isu ini telah dibahas selama bertahun-tahun oleh komite kedua belah pihak, mereka belum dapat menyelesaikannya. Ada ketegangan yang disebabkan oleh ketidakefektifan ini, dan tidakan Yunani adalah faktor sulitnya mendapatkan solusi masalah ini. Penangkapan warga Turki dan Yunani yang melintasi perbatasan juga menjadi faktor lain yang menyebabkan ketegangan ini.

          Cara mengatasi ketegangan di Laut Aegea adalah membangun kembali rasa saling percaya. Setelah upaya kudeta yang digagalkan, solusi ketegangan ini adalah mengembalikan personel militer dan warga Turki lainnya yang berlindung ke Yunani ke Turki, memberhentikan proses pencarian gas alam yang dilakukan dengan memanfaatkan bagian wilayah Siprus Yunani yang terletak di sekitar wilayah Siprus yang berkedaulatan Turki dan menarik pasukan bersenjata yang ada di laut Aegea untuk mengurangi ketegangan yang semakin memanas.

 

Demikian kajian dari Dr. Cemil Doğaç İpek, Asisten Penelitian, Departemen hubungan Internasional, Universitas Atatürk...



Berita Terkait