Pandangan Kebijakan Luar Negeri Turki (15)

Inilah kajian dari Asisten Penelitian Dr.Cemil Doğaç İpek, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Ataturk..

Pandangan Kebijakan Luar Negeri Turki (15)

Salah satu tokoh penting dalam politik Turki adalah Alparslan Türkeş, yang banyak disebut-sebut oleh Recep Tayyip Erdoğan disetiap kesempatannya. Pada pekan ini, kami akan sajikan kajian tentang kebijakan luar negeri Turki menurut Alparslan Türkeş dan refleksinya pada pekan ini.

Untuk mengetahui kebijakan luar negeri aktif Turki hari ini, terlebih dahulu perlu mengetahui sejarah Kebijakan Luar Negeri Turki. Dalam konteks ini, sangatlah bermanfaat untuk mengetahui arah kebijakan dalam dan luar negeri Turki dalam jangka waktu tertentu, serta mengetahui hubungan politik luar negeri Turki dengan negara mitra Eurasia dan efek-efeknya, dalam perspektif Türkeş.   

Alparslan Türkeş lahir pada 1917 di Siprus-Nicosia. Ia beremigrasi ke Turki bersama keluarganya pada tahun 1933. Dari sejak masa kejarajaan hingga menjadi republik, pemikiran Türkeş memberikan pengaruh saat peralihan Turki menjadi sebuah negara republik dan dalam hal ini pemikiran nasionalisme, juga memberikan pengaruh kepada Mustafa Kemal Atatürk, pendiri Republik Turki sekaligus pendiri Partai Gerakan Nasional.      

Dalam pidato Alparslan Türkeş, (dikenal dengan sebagai “bapaknya pemikiran” Ataturk, pendiri Republik Turki) pada 50 tahunnya wafatnya Ziya Gökalp. Türkeş mengatakan dalam pidatonya: “Langkah kami adalah langkah lanjutan yang diambil oleh Ziya Gökalp. Tentu saja hari-hari yang telah kita jalani telah menggiring kita ke beberapa tuntutan. Tuntutan ini memerlukan beberapa perubahan dalam prinsip. Namun tidak merubah sisi yang fundamental: ‘menjadi Turki, Islam dan menjadi modern’ adalah prinsip dasar yang hari ini harus dipertahankan.”      

Kebijakan luar negeri Turki berperan sebagai peraturan dan pelaksanaan hubungan negara dengan negara lain demi tercapainya kepentingan nasional. Menurut Türkeş, ketika membicarakan kebijakan politik luar negeri, aspek geopolitik sangat menentukan. Pada saat yang sama, hubungan dengan negara bagian dalam wilayahnya itu juga sangat penting.

 Isu pertama dalam menentukan kebijakan luar negeri Turki adalah tujuan nasional. Tujuan nasional ini adalah kemerdekaan negara dan integritas teritorial. Dalam sejarah, negara-negara selalu bekerja untuk menciptakan struktur politik yang lebih kuat, tatanan militer yang lebih kuat dan tercipta kemakmuran. Jadi tujuan kedua dari kebijakan luar negeri ini adalah upaya untuk menggapainya.

Kebijakan luar negeri dan kebijakan internal saling memperkuat dan mempengaruhi satu sama lain. Menurut Türkeş, jika sebuah negara tidak ada ruh untuk bersatu, bersemangat, terintegrasi, damai, maka kebijakan luar negerinya akan lemah. Sekali lagi, semakin kuat kebijakan dalam negeri suatu negara, maka kebijakan luar negerinya juga semakin kuat.

Türkeş menilai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai lembaga yang penting untuk menciptakan kemerdekaan bagi negara-negara, untuk kesejahteraan masyarakat dalam mengahadapi isu-isu ekonomi dan untuk menjamin perdamaian di bumi. Namun, menurut Türkeş, PBB tidak dapat melakukan misi ini (karena adanya hak istimewa yang dimiliki oleh beberapa segelintir negara). Kritik Alparslan Türkeş ini sama dengan dengan yang pernah dilontarkan oleh Presiden Republik Turki, Recep Tayyip Erdoğan. Menurut mereka, karena hak istimewa itu, menyebabkan struktur yang tidak adil. Faktanya, Erdoğan pernah  mengatakan "dunia lebih lebsar dari pada lima".

Prediksi Ataturk pada tahun 1933 dan Alparslan Turkes pada tahun 1944 tentang pembubaran Uni Soviet, terjadi pada tahun 1991. Kedua pemimpin bersejarah ini benar. Dalam hal ini, ia menjelaskan tentang pembentukan Republik Turki dan hubungannya dengan dunia Turki: “kedekatan dan kerja sama yang erat di antara komunitas Turki tidak akan pernah bertujuan untuk menyakiti atau menyerang orang lain. Terwujudnya kegiatan solidaritas dan kerja sama yang harus direalisasikan akan menjamin kemakmuran dan kebahagiaan yang damai di dunia. Orang-orang Turki ingin bekerjasama dengan teman-teman, tetangga, dan komunitas lain di mana mereka tinggal dengan tetangga mereka atau dengan orang lain di bagian dunia mana pun mereka berada”.

Pada titik ini, kebijakan luar negeri adalah salah satu alat interaksi terpenting dari negara-negara bagian. Suatu negara berkomunikasi dengan negara-negara yang tinggal di geografi yang sama, komunitas yang memiliki budaya yang sama melalui sarana politik luar negeri. Jika Alparslan merangkum apa yang ada di dalam kerangka pandangan Turki; pertama-tama harus menggunakan semua caranya sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan independensi dan integritas teritorial ketika menentukan kebijakan negara. Dalam konteks ini, Turki harus bertindak sesuai dengan kepentingan nasional.

Alparslan Türkeş terus berkhidmat untuk Bangsa Turki dan Dunia Turki hingga ajal menjemputnya. Hari ini, Republik Turki, di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdoğan, warisan Ataturk dan  Turkes, bangsa Turki dan dunia Turki terus berkhidmat untuk kemanusiaan.

         

 

Demikian kajian dari Asisten Penelitian Dr.Cemil Doğaç İpek, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Atatürk..



Berita Terkait