Timur Tengah Dari Perspektif Turki (8)

Kajian dari Prof. Dr. Salih Yılmaz, Ketua Lembaga Penelitian Rusia (RUSEN) Universitas Beyazıt Ankara

Timur Tengah Dari Perspektif Turki (8)

Kita bisa katakan bahwa dengan dimulainya Operasi Cabang Zaitun Turki pada 20 Januari 2018 di Afrin, berarti negara-negara yang melakukan perang kekuasaan di Suriah dalam jangka waktu yang lama mulai menampakkan diri. Dengan operasi Afrin, keputusan yang diambil di Sochi dan harapan perdamaian politik di Suriah dipengaruhi oleh fakta negara-negara itu yang berada di lapangan.

Setelah pertempuran dengan Daesh selesai, Rusia, Turki dan Iran sebagai negara penjamin mengadakan Kongres Dialog Nasional Suriah pada 20 Januari 2018.  Hasil terpenting kongres dua hari ini, yang mempertemukan kelompok pro-pemerintah dan etnis-etnis di Suriah, adalah dengan menekankan untuk menjaga kedaulatan dan integritas teritorial Suriah, diputuskan bahwa delegasi pemerintah Suriah dan delegasi oposisi harus berkontribusi dalam resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 2254 untuk merancang reformasi konstitusi. Kongres Sochi, yang dimulai pada tahun 2012 dan tidak memberikan kesimpulan atas perundingan yang diadakan di Jenewa yang ada di bawah naungan PBB, benar-benar menarik AS lebih jauh ke negara tersebut. Karena AS yang memandang bahwa integritas teritorial Suriah mengancam kepentingannya sendiri, memilih untuk memanfaatkan PKK/PYD untuk berperang melawan Turki dan Rusia.

Apakah PKK / PYD merupakan alat yang digunakan AS untuk memecahbelah Suriah?

Setelah operasi Afrin, AS telah memanfaatkan organisasi teroris PKK / PYD sebagai kekuatan yang benar-benar dapat digunakan. AS, yang harus berbagi dominasinya sebagai bagian dari operasi Rusia di Suriah pada tahun 2015, berencana untuk berada di negara ini dalam jangka waktu yang lama untuk menghancurkan Suriah dengan menggunakan PYD. Akan tetapi, setelah operasi Militer Turki di Afrin diluncurkan, semua rencana teror yang ada di Suriah bagian utara telah rusak. Dapat kita katakan, AS yang berencana ingin menguasai Suriah bagian utara dan wilayah yang terbentang dari perbatasan Irak hingga sampai ke ketinggian Golan, dengan memanfaatkan pengaruh PYD, menjadi semakin sulit. Karena kelihatannya tidak mungkin untuk menguasai wilayah dari Suriah bagian utara sampai garis Raqqa/ Deir-ez Zor dimana PKK/PYD ditugaskan. Rusia dan Turki yang mendukung integritas wilayah Suriah, pada saat yang sama mengancam rencana zona aman 40 km yang coba diciptakan Israel dengan dukungan dari AS. Dengan keadaan ini, setelah proses Sochi gagal diupayakan, maka menjadikan semakin memanasnya konflik di Suriah. Untuk ini, ditawarkan sebuah strategi baru yang dapat mengancam kepentingan Rusia. Sebelumnya, pangkalan udara Rusia Khmeimim diserang. Kemudian pesawat Rusia dijatuhkan. Dan yang paling terakhir, di Deyr-ez Zor, ada beberapa gambar yang menunjukkan penyerangan terhadap pasukan Assad, termasuk tentara bayaran Rusia, dan mereka dipertontonkan seperti layaknya orang yang tidak berdaya. Sebagai reaksi dari kejadian ini, pasukan Asad menjatuhkan pesawat Israel.

Rusia sulit untuk memberikan dukungan terhadap kebijakan Turki atas PKK/PYD sebagai keseimbangan baru.

Operasi Afrin Turki di Suriah dan penembakan pesawat Israel menjadi alasan bagi negara-negara seperti Israel, China, Perancis dan bahkan Inggris untuk menjadi aktor baru dalam konflik ini. Setelah operasi Afrin Turki, operasi tidak bisa bergerser ke Eufrat timur, hingga saat ini mengancam aktivitas Rusia yang masih ada. Dalam hal ini, Rusia tidak mendukung kebijakan Turki atas PKK/PYD, selain itu profokasi seperti penembakan pesawat akan dapat menjadi alasan peluncuran serangan baru. Dalam hal ini, baik Rusia, AS, Israel maupun China tidak memiliki kesempatan untuk memanfaatkan PKK/PYD. Jika Rusia masih menunggu harapan dari PKK / PYD, kebijakan ini bisa menimbulkan hasil yang tidak meyakinkan setelah beberapa saat. PKK / PYD, yang diberikan pasokan senjata, gaji, latihan dan dibukakan banyak basis oleh AS, tampaknya tidak akan memenuhi permintaan Rusia. Untuk menciptakan keseimbangan baru, diperlukan kerjasama antara Rusia dan Turki untuk memebersihkan PKK/PYD di Suriah bagian utara bahkan dalam operasi militernya. Karena politik Turki atas PKK / PYD adalah perjuangan yang berlegitimasi internasional. Dengan legitimasi ini, PKK / PYD tidak boleh dibentuk di utara dan juga karena dipersenjatai oleh AS.

AS sedang menyiapkan penawaran pembentukan kelompok baru di Suriah yang terlepas dari PKK

Rusia hanya menjadi penonton atas operasi militer yang tengah dilakukan Turki di Afrin, sehingga menjadi sebab AS memiliki banyak waktu. Dalam pertemuan yang dilakukan saat Menteri Luar Negeri AS Tillerson datang ke Turki, ia tidak menyerah atas desakan PKK/PYD. Solusi sementara yang ditawarkan dalam pertemuan tersebut adalah, AS bermaksud menjadikan PYD menjadi elemen nasional yang terpisah dari PKK, jika hal ini dilakukan maka kerjasama dengan Turki ini akan terlihat semakin membingungkan dan nampaknya menjadi rencana untuk menghilangkan Kandil di Suriah. Namun dalam tawaran ini setelah PKK di utara, Turki menyerahkannya ke AS, dan ini dianggap sebagai tawaran yang tidak baik. Seluruh inisiatif untuk meninggalkan AS akan mengarah pada konfrontasi dengan perwakilan kelompok baru yang akan dibentuk di sebelah utara Suriah yang terlepas dari PKK, sementara dalam hal ini Rusia masih hanya menjadi penonton.

Dalam konteks semua perkembangan ini, perdamaian di Suriah semakin sulit dicapai dengan semakin meruncingnya konflik ini. Rusia bisa memainkan peran yang menentukan dalam konflik ini. Kebijakan Rusia atas PKK / PYD akan mempengaruhi baik strategi Turki maupun hubungan Rusia dengan Turki. Dukungan aktif Rusia baik di lapangan dan di depan  terhadap pertempuran Turki dengan PKK/PYD dapat mengeluarkan PKK/PYD yang dipersenjatai oleh AS.



Berita Terkait