Analisis Agenda (8)

Operasi Cabang Zaitun yang dilakukan oleh Turki dan kelompok oposisi Suriah yang bertujuan untuk membersihkan YPG, karena kelompok teroris ini memiliki hubungan dan didukung oleh AS, menjadikan Turki harus bersusah payah dalan operasi tersebut

Analisis Agenda (8)

Turki berusaha untuk menjaga integritas keutuhan wilayah Suriah dan mengaja keamana nasional wilayahnya sendiri, sementara itu AS terus melakukan kerjasama kotornya dengan organisasi teroris PKK. Meskipun ketegangan antara kedua sekutu NATO baru-baru ini memasuki krisis tegang karena adanya 'dukungan terhadap terorisme,' sebenarnya ada masalah struktural serius yang didasarkan pada masa lalu. Sikap yang berbeda yang diambil dalam Arab Spring, dukungan AS terhadap kudeta yang terjadi di Mesir dan semua hal yang terjadi setelah upaya kudeta 15 Juli yang terjadi di Turki yang didalangi oleh FETO, telah mengganggu hubungan bilateral Turki dengan AS.

Menteri Luar Negeri Çavuşoğlu, menjelaskan hubungan Turki-AS, "Hubungan kami berada pada titik yang sangat kritis. Entah kita mampu memperbaiki hubungan ini atau hubungan ini akan semakin memburuk." Terlihat dari hubungan Turki-AS dalam beberapa hari lalu. Pihak AS tidak memahami kesungguhan Turki, Menteri Luar Negeri Turki Çavuşoğlu dengan melihat pidato Tillerson dalam pertemuan tentang Daesh yang menyebutkan , “ Kami memahami kekhawatiran dari Turki,  Kami tidak ingin lagi melihat banyak tindakan, lebih dari yang disebutkan,”  menyatakan bahwa Turki telah kehilangan kepercayaan terhadap AS dan menuntut realisasi dari janji-janji yang pernah disepakati. Karena AS tidak memenuhi janji-janjinya kepada Turki, diprediksi Turki akan mengambil keputusan yang radikal. Karena mengambil langkah untuk dapat menciptakan rasa saling percaya bahkan memperbaiki cara pandang hubungan Turki dan AS akan memakan waktu yang lama.   

Bekir Bozdağ, Wakil Perdana Menteri dan Juru Bicara Pemerintah Turki

Koridor teror sepanjang perbatasan Turki yang telah dibangun dan proyek nasionalisasi teroris yang akan mengancam Turki sama hal nya,‘‘AS telah mempengaruhi Turki agar menyerah pada organisasi teroris PKK / KCK / PYD / YPG; dengan perubahan nama atau tanda organisasi teroris, namun perlu diketahui bahwa mereka tidak bisa mengubah kebenaran dan tidak bisa menipu siapapun.”  Harus diakui tanpa pengecualian bahwa PYD dan YPG adalah organisasi teroris; dalam penjelasannya terdapat keterangan tersebut “kerjasama dengan organisasi teroris, pelatihan militer, perlatan, persenjataan, amunisi, kendaraan dan dukungan publik lainnya yang diberikan kepada organisasi teroris harus dihentikan, senjata yang diberikan kepada organisasi teroris harus dikumpulkan.”

Semua perkembangan ini berkaitan dengan kunjungan penting Menteri Luar Negeri AS Tillerson ke Turki. Tillerson yang telah melakukan pertemuan yang lama dengan Presiden Erdoğan, ia juga melakukan pertemuan berdua dengan Çavuşoğlu. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak sama-sama menganggap sebagai mitra strategis, dan sekali lagi Turki menyampaikan permintaannya kepada Amerika Serikat. Sebuah keputusan telah disepakati untuk mengambil sebuah mekanisme dalam melakukan perundingan mengenai isu di Suriah bagian utara, terutama di Manbij. Namun, sembari melakukan perundingan denga AS, Turki tetap menekankan bahwa organisasi teroris PKK/YPG adalah targetnya.

Kami melihat bahwa sebenarnya AS tidak melihat Turki sebagai aktor yang ingin melindungi wilayahnya, karena terfokus pada kepribadian Erdoğan, islamisasi Turki dan pendekatan dominan atas retorika otoritarianisme. Propaganda yang diciptakan oleh media masa dalam jangka waktu  panjang dan kelompok aliansi yang ada di Turki yang mendukung persepsi tersebut, telah menggeser kepentingan nasional Turki dan perdebatannya. Ketika , 'hak asasi manusia' dan 'nilai-nilai kemanusiaan’ Turki diperdebatkan di AS, pelanggaran 'hak asasi manusia' dan 'nilai-nilai kemanusiaan’dalam agenda AS yang ada di Timur Tengah, bersama Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan Mesir tidak diperhatikan. Sikap ambivalen AS adalah penyebab utama dari semuanya, yang mengawasi kebijakan luar negeri Turki yang bebas dan independen.

Selama percobaan kudeta pada tanggal 15 Juli yang dilakukan oleh FETO, pernyataan AS mengenai ‘apakah terjadi kudeta atau tidak;’ situasi ekstremis yang muncul setelah kudeta itu terjadi di tengah warga Turki dan akar masalahnya menjadi titik temu kedua negara tersebut. Keberadaan ketua organasisai teroris FETO di AS, dukungan yang diberikan kepada FETO oleh CIA dan lembaga-lembaga AS lainnya menyebabkan hubungan Turki-AS semakin tegang.

Meskipun puluhan bukti telah dipresentasikan oleh Turki di Amerika Serikat, tapi pemulangan ketua organisasi teroris FETO ke Turki tidak dilakukan, proses hukum tidak dilaksanakan dan ini menunjukkan bukti penting bahwa AS tidak merasa tidak nyaman dengan keberadaan FETO, pelaku kudeta 15 Juli di Turki. Meskipun Turki dan Mesir telah melangsungkan pemilihan presiden secara demokratis untuk pertama kalinya, sebelum Amerika, islam Turki telah memberikan dukungannya.  Ketika AS menyambut baik kudeta Sisi, sementara Turki terus memberikan dukungannya kepada pemerintah Mursi, hal ini menunjukkan perselisihan yang signifikan antara AS dan Turki di Timur Tengah. Meskipun Turki telah mencoba mendorong terciptanya pemerintah negara-negara di Timur Tengah yang dipilih oleh rakyat, Amerika Serikat akan tetap bertindak sesuai kepentingan dan keuntungan mereka sendiri. Dalam pandangan AS, pemerintah yang tidak pro-AS yang melangsungkan pemilu yang bebas di Timur Tengah, akan tetap diancam demi kepentingan dan keuntungannya mereka. 



Berita Terkait