Analisis Agenda (4)

Olive Branch Operations/Operasi Cabang Zaitun: Babak baru Perjuangan Turki melawan Terorisme

Analisis Agenda (4)

Karena dipandang mengancam keamanan nasional Turki dan Integritas wilayah Suriah, Turki melakukan operasi militer untuk melawan PYD/YPG yang merupakan jaringan PKK yang ada di Suriah dalam kurun waktu yang panjang. Ketika Angkatan Bersenjata Turki / Türk Silahlı Kuvvetleri (TSK) memindahkan kekuatan militernya ke wilayah yang telah lama menderita, situasi di Idlib, Afrin bagian selatan, telah diambil alih. Serangan operasi yang telah lama dipersiapkan ini dimulai pada 20 Januari pukul 17:00 (waktu Turki) tepatnya setelah Presiden Turki Erdoğan mengumumkan “Operasi Afrin benar-benar dimulai.” Operasi yang dilakukan ini disebut dengan sebutan “Operasi Cabang Zaitun/Operation Olive Branch.”

Afrin adalah daerah yang berbatasan dengan Turki, yang memiliki posisi geopolitik yang penting. Menurut data sensus penduduk terakhir tahun 2004 jumlah populasi yang tinggal di seluruh wilayah Afrin sebanyak 172.095 penduduk, 64.758 orang diantaranya tinggal di pusat wilayah tersebut. Fakta bahwa Afrin tidak dapat diserang oleh rezim Assad membuat wilayah tersebut menjadi relatif aman dan menyebabkan banyak migrasi yang lari ke wilayah ini. Diperkirakan populasi di wilayah Afrin saat ini mendekati 300.000 penduduk.

Bagi organisasi teroris tersebut, wilayah ini dipandang sebagai batu loncatan untuk menuju ke Mediterania. Selain itu, mereka mencoba untuk membangun jalur untuk menyuplai militan dan mengirim senjata dari Afrin melewati pegunungan Amanos menuju ke Turki. TSK dan pasukan keamanannya menetralisir wilayah ini dengan melumpuhkan 287 teroris yang mencoba pergi dari dari Afrin ke wilayah tersebut.

Tahap penyerangan yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Turki dalam Operasi Cabang Zaitun di Afrin ini, dimulai dengan serangan tembakan yang dilakukan oleh Angkatan Udara Turki pada 20 Januari pukul 17:00 (waktu Turki) ke arah titik daerah kekuasaan teoris yang berada di Afrin.    Diumumkan bahwa bunker milik PKK / KCK / PYD-YPG, shelter tempat berlindung dan 108 titik yang digunakan sebagai gudang amunisi telah hancur, akibat serangan yang melibatkan 72 pesawat tempur. Tahap pertama operasi tersebut mengisyaratkan sebuah respon yang luar biasa dari pihak militer Turki terhadap organisasi teroris yang ada di Afrin.

Hari ke-2 Operasi Cabang Zaitun yang dilakukan oleh TSK dan oposisi Suriah yang mendukung Turki, dimulai dengan serangan darat dan beberapa titik berhasil dikuasai. Kemudian sasaran utama operasi ini beralih ke perbukitan di daerah pegunungan. Permulaan operasi yang tidak terbayangkan oleh YPD dan dilakukan dari arah yang paling suit, merupakan  strategi operasi dan tips yang penting. Untuk mencegah anggota YPG yang mencoba melarikan diri, perbukitan di daerah pegunungan dikuasai. Setelah daerah perbukitan berhasil dikuasai, TSK dan oposisi yang mendukung Turki akan mengambil langkah selanjutnya untuk membersihkan wilayah ini dari YPG secara masif. Di sisi lain, perlu dicatat bahwa operasi tersebut berlangsung dari 8 arah yang berbeda. Pada saat yang sama, YPG dipaksa untuk berperang di banyak arah sehingga mereka kesusahan karena kekuatannya tidak mencukupi.

Hingga saat ini, operasi berhasil dilakukan dan memasuki hari ke-5. Organisasi teroris PKK/YPG menggunakan teknik perang hibrida-asimetris dan memanfaatkan warga sipil sebagai pelindung dengan menarik diri ke daerah perumahan. Tampaknya mereka berusaha menjalani proses propaganda hitam internasional dengan menjadikan warga sipil sebagai pelindung dan berusaha mengurangi korban dari mereka sendiri serta menjadikan warga sipil sebagai tumbal dalam aksi mereka. Hal inilah yang melatarbelakangi agar anggota organisasi teroris ini tidak diizinkan meninggalkan wilayah markas Afrin dan warga sipil pedesaan tidak diijinkan meninggalkan daerahnya tersebut.

 

Selain operasi militer, upaya diplomatik juga menarik perhatian. Rusia terus menjaga wilayah udara Suriah yang ada di bawah kendalinya dalam cakupan kesepakatannya dengan rezim tersebut. Diketahui bahwa wilayah operasi yang di lakukan Rusia relatif lebih kecil dibanding wilayah operasi yang dilakukan oleh Turki. Namun, dengan operasi pembersihan ini, Turki berusaha untuk menghilangkan ancaman teroris yang ada di Afrin secara permanen.

Turki yang terus berkoordinasi dengan Rusia, melakukan diplomasi yang cukup intensif dengan AS, negara-negaa Uni Eropa dan negara-negara teluk. Setelah dimulainya operasi tersebut, para duta besar dari beberapa negara diundang oleh kementerian luar negeri Turki untuk diberikan informasi tentang operasi tersebut. Di sisi lain, Perancis berupaya membawa isu Operasi Cabang Zaitun ini ke agenda PPBB, Inisiatif diplomatik kementerian luar negeri Turki yang berkembang menjadi  agenda isu kemanusiaan di Suriah. Selain itu, atas inisiatif Kementerian Luar Negeri Turki, upaya beberapa pendukung PKK dari Dewan Eropa yang ingin mengindahkan Operasi Cabang Zaitun ke dalam agenda diskusi telah dihalangi.

Ada banyak pernyataan yang berbeda yang berasal dari Amerika Serikat, namun dalam hal ini secara umum mereka memang terlihat tidak senang dengan adanya Operasi Cabang Zaitun. Meski demikian, Inggris, Jerman dan NATO melihat Operasi Cabang Zaitun ini sebagai langkah yang legal, dan Rusia menyatakan bahwa AS harus bertanggung jawab atas situasi yang terjadi di Suriah.

 



Berita Terkait