Hubungan Turki dan Eurasia (42)

Kali ini, kami akan menganalisis hubungan Azerbaijan-Uni Eropa dan manfaat hubungan keduanya bagi Turki.

Hubungan Turki dan Eurasia (42)

Uni Eropa adalah salah satu organisasi yang memegang peran penting dalam politik global dan Eurasia. Uni Eropa memiliki peran penting dalam kebijakan luar negeri Azerbaijan, yang sangat mementingkan kerjasama multilateral.

Kami akan sajikan pengkajian tentang tema ini dari Asisten Profesor Dr. Cemil Doğaç İpek, Departemen Hubungan Antar Bangsa Universitas Ataturk.  

          Uni Eropa (UE) memiliki peran khusus dalam pengambilan kebijakan luar negeri Azerbaijan, yang sangat mementingkan kerjasama dan kemitraan multilateral. Pada tahun 2004, Dewan Eropa bersama dengan Uni Eropa, negara-negara eropa timur dan selatan serta 16 negara tetangga sekitar Azerbaijan, mengeluarkan kebijakan mengenai partisipasi Azerbaijan dalam politik, ekonomi dan asosiasi keamanan dengan tetangga negara-negara eropa. Untuk mempertahankan kerjasama multilateral dalam Kebijakan Kemitraan Eropa, Uni Eropa mulai menjalin kerjsama kemitraan dengan Timur Tengah untuk memperkuat kerjasama bilateral dengan Azerbaijan, Georgia, Armenia, Ukraina, Belarus dan Moldova pada tahun 2009.

      Kini, Uni Eropa telah menjadi salah satu mitra dagang utama Azerbaijan. Menurut data tahun 2016, total transaksi perdagangan Uni Eropa dengan Azerbaijan adalah 34,93% (6,17 miliar dolar). Secara umum, transaksi perdagangan Azerbaijan denga Uni Eropa memiliki makna yang berarti, karena total ekspor Uni Eropa dan Azerbaijan sangat tinggi sementara total impornya rendah. Pada tahun 2016, total surplus perdagangan negara tersebut mencapai $ 2,11 miliar. Sekitar 1,73 miliar dolar, lebih banyak diperoleh dari transaksi dengan UE. 81,99% surplus perdagangan Azerbaijan dengan UE berasal dari produksi minyak dan  sekitar 30% lainnya berasal dari gas alam.

      Karena Uni Eropa merupakan mitra dagang penting Azerbaijan, Bakü sangat mementingkan pengembangan lebih lanjut pada sektor hubungan ekonomi. Namun, karena minyak dan gas alam adalah produk yang paling banyak diekspor oleh Azerbaijan, transaksi perdagangan negara tersebut dengan Uni Eropa sangat bergantung pada harga minyak dunia. Sebagai contoh, karena harga minyak dunia telah turun tajam sejak pertengahan 2014, volume perdagangan antara kedua belah pihak turun dari $ 13,89 miliar pada tahun 2014 menjadi $ 6,17 miliar pada tahun 2016. Oleh karena itu, jika harga minyak selalu turun, transaksi perdagangan Azerbaijan dan Uni Eropa tidak akan meningkat secara signifikan dalam yang singkat.

      Di sisi lain, Uni Eropa juga tengah mengalami masalah serupa dengan negara-negara tentangga seperti yang dialaminya dengan Azerbaijan dalam pengambilan Kebijakan Kemitraan Eropa, dimana kebijakan ini sudah ada lebih dari sepuluh tahun sejak Uni Eropa didirikan. Reformasi demokrasi di beberapa negara, dimana Uni Eropa tidak dapat mengusulkan –konsep- keanggotaan Uni  Eropa, juga tidak membuahkan hasil sesuai yang diinginkan.

          Dalam keadaan seperti ini, satu-satunya cara agar Uni Eropa dalam menjalin hubungan dengan negara-negara yang paling tidak tertarik dengan kepentingan vital mereka, seperti keamanan pasokan energi, adalah mengambil peran lebih aktif dalam menyelesaikan konflik di negara-negara tersebut.

          Sebenarnya, Azerbaijan menaruh harapan kepada Uni Eropa untuk dapat mengembangkan hubungan bilateral dalam Kebijakan kemitraan, akan tetapi Uni Eropa  mulai memainkan peran mediator yang netral dan efektif pada isu Karabakh. Saat ini, dua puluh persen tanah Azerbaijan berada di bawah pendudukan Armenia. Ini merupakan hambatan nyata dalam kerjasama ekonomi dan investasi dengan Uni Eropa.

      Seperti halnya masalah Uni Eropa dengan Georgia, Azerbaijan juga berharap memperoleh dukungan integritas teritorial dari Uni Eropa, sayangnya dukungan ini sangat terbatas. Uni Eropa boleh saja mengatakan bahwa Azerbaijan adalah mitra yang kredibel dan dekat, akan tetapi ia harus dapat mengambil keputusan dan langkah yang nyata untuk mendukung integritas teritorial Azerbaijan dalam isu Nagorno-Karabakh.

           Untuk itu, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengambil peran aktif dalam proses Minsk di Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa / Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE), yang diakui sebagai mekanisme untuk mendapatkan solusi penting.

          Kenyataannya, pada bulan Maret 2012, Komite Hubungan Eksternal Parlemen Eropa merekomendasikan agar OSCE digantikan oleh Uni Eropa di Grup Minsk yang bertanggung jawab atas penyelesaian konflik Nagorno-Karabakh. Akan tetapi, Uni Eropa tidak dapat memberikan solusi untuk konflik Nagorno-Karabakh karena negara-negara anggotanya tetap mempertahankan kebijakan politik nasional mereka di atas kepentingan Uni Eropa. Oleh karena itu, cara Uni Eropa agar dapat tetap mempunyai pengaruh dalam kebijakan luar negeri adalah -dengan memberikan kebebasan negara-negara lain untuk- menyelesaikan masalah internalnya sendiri. Bagaimanapun komprehensifnya kebijakan politik yang dihasilkan di platform bilateral dan regionalnya, Uni eropa tidak akan selalu menjadi peran penting dalam menyeleseikan isu-isu di negara sekitar.

      Pendek kata, hubungan Azerbaijan-Uni Eropa juga sangat penting bagi Turki. Hubungan Turki dan Azerbaijan laksana "satu bangsa, dua negara negara". Untuk itu, hubungan Azerbaijan dengan Uni Eropa secara langsung akan mempengaruhi hubungan Turki-Uni Eropa.

 

Hubungan Turki dan Eurasia karya Asisten Profesor Dr.Cemil Doğaç İpek Departemen Antar Bangsa Universitas Atatürk

 



Berita Terkait