Bukan Menghilangkan Jati Diri, Tetapi Menyikapi dengan Bijaksana

Kami akan sajikan kajian dari Dekanı Prof. Dr. Kudret BÜLBÜL, Dekan Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt Ankara

Bukan Menghilangkan Jati Diri, Tetapi Menyikapi dengan Bijaksana

Dalam beberapa minggu terakhir, kita telah membahas tipologi respon terhadap barat; menerima, menolak dan menyeleksi dengan bijaksana.

Penerimanaan dan penolakan mungkin tampak sebagai dua sikap yang independen dan berlawanan. Namun, kedua sikap ini memiliki hubungan yang erat. Kaum imigran yang tinggal di Barat memilih antara kedua sikap tersebut. Mereka yang mengambil sikap menerima adalah lantaran karena telah menghapus identitasnya sendiri. Sementara mereka yang menolak, benar-benar terkucilkan dari masayarakat tempat mereka tinggal. Mereka bisa bergeser dari pilihan diantara kedua sikap ini. Bisa jadi pada saatnya yang menolak akan  menerima, kebalikannya bisa jadi yang menolak akan menerimanya. Fakta-fakta ini menjelaskan partisipasi anggota ISID bukan karena faktoor agama.

Sikap penerimaan dan penolakan tidak memiliki dampak kontribusi positif terhadap masayarakat di sekeliling tempat mereka tinggal. 

Bukan menghilangkan jati diri, tetapi bersikap secara independen dan bijaksana

Pendekatan yang diperlukan dalam menyikapi Barat saat ini, selain menerima dan menolak, adalah pendekatan yang bijaksana atau independen sebagaimana yang dilakukan oleh Said Hamid Pasha. Meskipun Said Hamid Pasha telah melontarkan kritik pedas terhadap pendekatan Barat tentang penderitaan Perang Dunia 1, pendekatan yang bijaksana yang diterapkannya terhadap Barat saat itu perlu kita cermati.

Di lingkungan masyarakat Barat, muncul sikap penolakan dan penerimaan. Sikap penolakan dan penerimaan kaum imigran lebih sering berdasarkan pada alasan agama, ideologi dan budaya.

Contoh, bagi umat Muslim, tidak ada pengingkaran bahwa Islam adalah agama yang memberikan solusi kepada seluruh umat manusia dari sejak Nabi Adam hingga manusia terakhir. İni adalah pengakuan dan sebuah visi. Dalam akidah Islam, penolakan terhadap keyakinan lain menggunakan kata “La (tidak).” Sementara dalam hal Muamalah masih bisa diseleksi. Bahkan, sekalipun itu misalnya berasal dari China. Sehingga perlu diperjelas apa itu ilmu?, sains, pengetahuan, teknik, metode, pengamalan.

Dalam hal ini, apa yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika ia berada di tengah-tengah lingkungan kaum kafir Quraisy dapat menjadi teladan bagi kita. Karena saat itu Makkah berada dalam kejahiliyahan. Dapat dikatakan bahwa Nabi Muhammad menetapkan tiga macam pendekatan terhadap masyarakan Makkah. Sebagian apa yang ia lakukan, sama dengan yang dilakukan oleh masyarakat Makkah jahiliyyah. Pakaiaan, jenggot dan dandanannya sama dengan mereka. Dalam hal ini, kita dapat katakan bahwa Nabi Muhammad tidak berbeda dengan mereka. Namun Nabi Muhammad juga mengoreksi dan meluruskan apa yang dilakukan oleh masyarakat Makkah jahiliyyah. Contoh, memendekkan jenggot. Ia juga menolak secara keras beberapa hal lainnya yang dilakukan oleh mereka.

Tipologi pendekatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad menjadi pelajaran yang berharga bagi semua masyarakan, baik Timur, Barat, Selatan, Utara, Modernis, Postmodernis, Globalisasi, dll. Pendekatan penolakan pada era sekarang dapat diterapkan kepada ISID. Dalam hal ini, dapat digunakan kaidah "pada dasarnya, segala sesuatu adalah boleh" sebagaimana yang dirterapkan dalam hukum Peradaban Turki Usmani.

Reaksi yang ditunjukkan dalam proses yang diperkenalkan denganTanzimat biasanya antara menerima dan menolak. Hari ini kita menjalani konsekuensi dari suatu periode yang masuk dengan Tanzimat. Proses-proses ini adalah proses yang mempengaruhi dan memaksa individu, kelompok, institusi dan negara. Ketika kita melihat dari perspektif ini, tidak dapat dikatakan bahwa kita dapat mengembangkan sikap ini terhadap modernitas Barat maupun terhadap Uni Eropa pada hari ini. Dalam beberapa kasus, tidak diragukan lagi untuk mengembangakan beberaa alternatif. Namun biasanya, alternatif dimunculkan untuk beberapa yang mengucilkan dan menjauhkan diri.

Alhasil, pendekatan yang yang kita gunakan  dalam menyikapi fenomena-fenomena, konsep-konsep dan isu-isu Barat tidak menggunakan psikologi kekalahan untuk menerima sepenuhnya, namun menggunakan pendekatan yang bijaksana dan independen. Sebenarnya ini juga cerita tentang perjalanan kami, yang dimulai dari Khurasan dan hingga ke Anatolia dan dari sini (Turki) ke Barat. Kami bertemu dengan semua budaya, tanpa ragu-ragu, semua ini semakin memperkaya kami. Layaknya sebuah bola salju yang turun yang meluncur, yang dapat menjadi semakin besar karena ada asimimilasi budaya, bukan malah mengasingkan diri lantaran ketakutan. Solusinya tidak sesulit yang Anda bayangkan. Maulana (Jalaluddin Rumi) juga telah memberikan teladan kepada kita, agar kita mampu berdiri dengan nilai-nilai identitas kita sendiri kita dan memperkaya dunia pikiran kita. Sebagaimana dalam metafora Maulana untuk mengekspresikan satu kakinya sebagai dasar dan membuka peluang untuk berinteraksi dengan dunia lain dengan menggunakan satu kaki lainnya.

Apakah isu-isu ini dapat diselesaikan hanya dengan sendirian? Kita akan teruskan pada pembahasan selanjutnya.



Berita Terkait