Bintang yang Bersinar Dalam Sejarah Turki (10)

‘’Ahi’’ dalam Kamus Divan-ı Lügatü’t-Türk berarti ‘’Akı’’ yang fonetiknya sangat kental, dapat juga diartikan sebagai ‘’Akılık’’ atau ‘’Kepintaran’’.

Bintang yang Bersinar Dalam Sejarah Turki (10)

Dalam Bahasa Arab ''Ahi atau Akhi'' berarti ''Saudara'', namun arti dalam Bahasa Persia adalah ''Pemuda'' atau ''Muda-Mudi Kuat''. Sedangkan dalam Bahasa Latin dapat diartikan sebagai ''Chevalier'' dapat dibaca ''Showalye'' yang berarti ''Seorang Pemberani nan Muda''. Dalam Sejarah, Budaya dan Peradaban Turki ''Organisasi atau Perkumpulan Pemuda'' muncul pada Zaman Kekaisaran Selçuk. Dalam al-Quran dan Hadits kemunculannya dikenal dengan nama ''Ukhuwwat atau Persaudaraan''. Ahiler atau dapat diartikan sebagai para pemuda yang berasal dari kota Horasan dan datang ke Anadolu atau Anatolia yang kala itu dibawah kekuasaan Dinasti Selçuk membawa berbagai visi dan misi seperti keilmuan, tasawwuf, berdagang, dan kesenian.

Program yang sedang anda baca merupakan karya dari seorang staf pengajar di Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Gazi Ankara bernama Dr. Güray Kırpık.

Pada tahun 1176 saat itu kawasan Anadolu atau Anatolia dibawah kekuasaan Sultan Kılıç Arslan Ke-II dengan Dinasti Selçuknya yang sangat kokoh. Berbagai peninggalannya pun masih dapat kita saksikan ditempat-tempat tertentu dikawasan Anatolia. Tahun 1180 seorang khalifah Abbasiyah bernama Nasir Liidnillah mencoba merusak kekuasaan politiknya namun tidak berhasil, bahkan mendapatkan kabar semakin kuat dengan pemimpinnya yang bernama Sultan Kılıç Arslan Ke-II dari Dinasti Selçuk Turki. Beliau pernah juga mengirimkan berbagai ahli tasawwuf kekota Baghdad yang saat itu dipimpin bersama putranya yang bernama Gıyaseddin Keyhüsrev. Dengan kerjasama antara Nasır Liidnillah dan para pejabat Dinasti Selçuk akhirnya diseluruh penjuru masyarakat muslim dikirimkan para pemuka ilmu sufisme. Salah satu guru dari Gıyaseddin Keyhüsrev yaitu Mecdüddîn İshak menjadi pemuka sufisme yang berasal dari kota Konya dan dikirim kekota Baghdad. Kemudian sebaliknya, Gıyaseddin Keyhüsrev membawa para ahli sufi Arab seperti Muhyiddin İbnü'l-Arabi, Evhadüddin-i Kirmani dan Syekh Nasirüddin Mahmud el-Hoyî (Ahi Evrân) ke Anatolia Turki. Proses pembuatan organisasi pemuda untuk menyiarkan agama Islam tersebut pada masa awalnya dibuat oleh para Sultan Selçuk seperti İzzeddin Keykavus Ke-I dan Alaaddin Keykubad Ke-I bersama para Ahiler. Kabar ini didengar oleh Khalifah Nasır Liidnillah dan memberikan dukungan dengan mengirimkan Şehabeddîn Keykubad untuk lebih memperkaya bidang keilmuan agama dan sufisme.

Dapat dipastikan bahwa orang-orang Ahi berasal dari kota Horasan yang berada disebelah Barat Iran dan berbatasan dengan Azerbaijan dengan tokoh terkenalnya bernama Syekh Nasîrüddîn Mahmud atau sebutannya ''Ahi Evran''. Pergerakah orang-orang Ahi yang diterima sangat baik dan positif oleh Dinasti Selçuk tersebut juga melebarkan sayapnya dengan mengembangkan pendidikan dan membuat berbagai sekolahan berbasis agama. Tidak hanya mengajarkan agama, namun juga berbagai bidang ilmu lain. Bentuk sekolahannya pun selalu berdekatan dengan masjid yang mengharuskan para muridnya untuk melakukan ibadah shalat menghadap Sang Pencipta.

Otoritas politik orang-orang Ahi hancur ketika para pemberontak Mongol datang dan mengacaukan berbagai sistem yang sudah dibuat sebaik mungkin. Namun para pengusaha tidak putus asa dan melanjutkan sistem yang sudah ada dengan berkeliling kekampung-kampung demi membuat sebuah pendidikan berkembang dan dapat dinikmati oleh berbagai masyarakat luas.

Orang-orang Ahi juga turut andil dalam Dinasti Ottoman, para Sultan Dinasti Ottoman atau Utsmani awal sangat memberikan dukungan penuh kepada orang-orang Ahi. Beberapa sultan diantaranya adalah Osman Gazi dan Orhan Gazi yang turun tangan sendiri bersama-sama orang Ahi. Pada abad ke-14 Orhan Gazi menerima seorang ulama muslim yang besar dan terkenal yaitu Ibnu Battuta dan mengajak beliau pula untuk mengelilingi kampung-kampung di Turki tentang andilnya dalam dunia pendidikan.

Pakaian orang-orang Ahi mempunyai ciri khas tersendiri, khususnya bagi para sesepuh dan guru mereka membedakan pakaiannya karena dikenal dengan nama ''Pemimpin Ahi'' yang dipercayai mempunyai ''Sifat Mulia'' dan ''Keberanian'' dalam mengjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Para sesepuh pun biasanya mempunyai budaya memberikan istri yang solehah menurut guru-gurunya untuk dinikahi. Peran para guru pun biasanya sudah bukan hanya seorang guru namun juga seorang ayah atau bapak. Perkumpulan wanitanya pun dikenal dengan nama ''Baciyân-ı Rûm'' atau dapat diartikan ''Wanita Anatolia''


Program yang baru saja anda baca merupakan karya dari seorang staf pengajar di Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Gazi Ankara bernama Dr. Güray Kırpık.



Berita Terkait