Eko Politik (30)

Kami akan sajikan kajian dari Prof. Dr. Erdal Tanas KARAGÖL, Departemen Ekonomi, Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt..

Eko Politik (30)

Ketika Timur Tengah memasok ekonomi dunia dengan unsur produksi yang paling penting, yaitu minyak, Timur Tengah juga terus menghadirkan ketidakstabilan politik  dunia. Trump mulai memenuhi apa yang ia janjikan dalam kampanyenya. Kebijakan pro-Israel Trump, yang telah meninggalkan Iran sendirian dalam politik regional Timur Tengah, semakin memperkeruh keadaan. Dalam hal ini, politik global menuntut perlunya keamanan ekonomi dan politik luar negeri.

Sebagaimana yang pernah disampaikan dalam janji kampanye Trump, kebijakan Timur Tengah satu per satu mulai meresahkan. Proses yang dimulai dengan penarikan AS dari kesepakatan nuklir Iran, kemudian dilanjutkan dengan kebijakan pengisolasian Qatar dan pertikaian yang ada dalam negeri Arab Saudi terus berlanjut. Terakhir, keputusan Trump untuk memindahkan Kedutaan Besarnya untuk Israel ke Yerusalem dan gerakan jalan, yang telah sering diamati di Iran selama beberapa bulan terakhir, merupakan tanda bahwa situasi saat ini terus akan berlanjut.

Mata uang Iran di kawasan ini mengalami banyak perubahan karena adanya embargo yang diterapkan. Namun, dengan adanya kesepakatan nuklir, memberikan udara segara bagi Iran karena pemegang modal global memberikan Iran kesempatan. Investasi di negara ini telah menunjukkan peningkatan yang signifikan, khususnya di sektor penerbangan dan otomotif. Dengan dukungan yang diperoleh Iran, ekonomi negara ini tumbuh 6 persen pada tahun 2016. Sayangnya, ketika ekonomi makro negara ini mulai pulih, Trump mencampurinya dengan kebijakan luar negerinya. 

Di sisi lain, Arab Saudi, yang merupakan penjamin dolar Petro, sedang berusaha untuk mengalokasikan kembali saldo domestik serta mencoba untuk membuktikan betapa kompetennya Trump di Timur Tengah. Anggota keluarga kerajaan Raja Salman dan suprastruktur birokrasi memperkuat otoritasnya di dalam negeri dan menjadi bagian dari dialog politik yang negatif dengan banyak negara Timur Tengah, terutama dengan Iran. Fakta bahwa setiap insiden yang menaikkan harga BBM, akan membuat wajah Arab Saudi tertawa, karena Arab Saudi adalah pihak yang mendapatkan keuntungan dari masalah ini.

Sengketa Iran dan Arab Saudi yang belum pernah terjadi sebelumnya menyebabkan negara-negara kawasan menerapkan politik keseimbangan. Sikap pemerintahan Trump terhadap Iran membuat Arab Saudi menjadi sekutu yang dapat dimanfaatkan. Dalam pernyataan terakhir yang disampaikan Trump, ia ingin sekutu-sekutunya menghentikan impor minyak dari Iran. Tanpa ragu ia memberikan saran kepada negara-negara sekutunya untuk menjadi negara pengimpor minyak alternatif. Bersama sekutunya, Arab Saudi, Amerika Serikat sangat menganjurkan agar harga minyak dapat diturunkan.

Semua perkembangan ini sangat memberikan tekanan naiknya harga minyak. Harga minyak yang mencapai 80 dolar, memberikan dampak inflasi terutama untuk negara-negara berkembang. Bagi negara-negara pengimpor energi seperti Turki, keamanan ekonomi pasokan energi menjadi bagian yang paling penting.

Bagaimana Uni Eropa menyikapi siatuasi ini dan apakah Trump akan kembali menjalin hubungan dengan Iran, ini merupakan isu yang menarik perhatian. Pemilihan Senat akan menentukan apakah Trump akan menandatangani kembali perjanjian NAFTA atau tidak, yang ia sebut "kesepakatan terburuk dalam sejarah." Namun demikian, tidak realistis untuk berpikir bahwa negara-negara Eropa sepenuhnya akan mengikuti rekomendasi Trump mengenai Iran, mengingat pemerintahan Trump lebih menyukai kebijakan perdagangan proteksionis.

Ke depannya, kemungkinan Trump akan menerapkan kebijakan larangan pembelian minyak Iran ke negara-negara Amerika Latin. Penerapan kebijakan semacam itu akan sangat merusak kepercayaan dan stabilitas global karena harga minyak mengalami rekor kenaikan yang sangat tinggi.



Berita Terkait