Analisis Agenda (36)

Kami akan sajikan kajian dari Yazar Can ACUN, Peneliti SETA (Lembaga Penelitian Politik, Ekonomi dan Masyarakat)

Analisis Agenda (36)

Pasca krisis pesawat yang terjadi antara Turki dan Rusia, hubungan bilateral kedua negara tersebut telah ditingkatkan kembali. Hubungan bilateral ini telah berkembang secara signifikan di bidang politik, diplomatik, militer dan ekonomi. Faktor utama kedekatan pemimpin kedua negara ini adalah keduanya sama-sama tidak nyaman dengan kebijakan AS akhir-akhir ini. Meskipun kedua negara ini banyak melakukan kerja sama di berbagai bidang, masih tetap banyak perselisihan yang terjadi diantara keduanya.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa Turki dan Rusia secara bertahap mengembangkan hubungan kerjasama. "Hubungan kami dengan Turki semakin diperdalam dan semakin diperbaharui," katanya. Hubungan bilateral kedua negara semakin berkembang, terutama di bidang energi dan ekonomi. Mantan Menteri Keuangan Rusia, Zadornov, mengatakan "kami memiliki hubungan ekonomi yang penting dengan Turki. Turki masuk dalam daftar 10 mitra dagang terbesar Rusia. Oleh karena itu menurut Layanan Bea Cukai Federal Rusia (FTS), dalam 6 bulan pertama tahun ini, volume perdagangan Turki mengalami peningkatan 37 persen, menjadi $ 13,3 miliar dan menjadi mitra dagang terbesar ke-4 Rusia. Pada saat yang sama, wisatawan Rusia banyak yang  berkunjung ke Turki. Hal itu memiliki arti besar dalam hubungan bilateral kedua negara ini. Çavuşoğlu menyatakan bahwa Turki puas karena pada tahun ini dikunjungi 6 juta wisatawan Rusia.

Ada proyek-proyek penting seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Akkuyu dan TurkStream yang dijalankan oleh kedua negara ini di bidang energi. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Akkuyu akan memenuhi kebutuhan energi Turki dan 10% dari ekonomi Turki akan tumbuh serta akan memberikan keamanan kebutuhan energi. Demikian juga proyek TurkStream akan memungkinkan Turki untuk memenuhi kebutuhan energi yang penting dan yang dapat dijamin. Pada tahap kedua, proyek ini direncanakan akan dikembangkan ke negara-negara Balkan. Hal ini akan menjadi langkah penting untuk perencanaan strategis, menjadi rute transit energi Turki.

Selain kerjasama di bidang energi dan ekonomi, kerjasama kedua negara ini juga berkembang di bidang militer. Terutama pembelian sistem pertahanan udara S-400 Turki dari Rusia dan akan diserahkan pada tahun 2019. Hal ini semakin meningkatkan hubungan bilateral kedua negara. Dalam konteks ini, Viktor Kladov, Direktur Kerjasama Internasional dan Kebijakan Regional dari perusahaan pertahanan negara Rusia, Rosteh, mengatakan "Saya dapat mengatakan dengan jelas bahwa perjanjian S-400 merupakan langkah penting untuk memperkuat dan mengembangkan kerjasama militer-teknis antara negara kita. Saya tidak melihat kendala di depan kita untuk mengembangkan aliansi bisnis kita di berbagai industri baru."

Sebagian besar perkembangan hubungan Turki-Rusia disebabkan karena sikap Amerika Serikat yang mengganggu kedua negara tersebut. Pembelian sistem pertahanan S-400 dari Rusia dilakukan karena Amerika Serikat mengancam Turki akan menghentikan proyek kerjasama F-35. Menteri Luar Negeri Turki mengatakan bahwa bagi Turki S-400 bukanlah sebuah pilihan, tetapi sebuah keharusan.

Pada saat yang sama, Turki dan AS memiliki masalah tentang isu FETO, PKK/YPG dan Pendeta Brunson. Di sisi lain, Presiden Amerika Donald Trump mengambil keputusan untuk menjatuhkan sanksi terhadap Turki, sehingga semakin memperburuk hubungan kedua negara ini. Dalam konteks ini, Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoğlu di Moskow mengatakan bahwa  "hubungan Rusia dan Turki semakin membuat negara-negara lain iri."

Meskipun hubungan Turki-Rusia terus berkembang ke arah yang positif, masih ada perbedaan yang signifikan yang terjadi diantara kedua negara tersebut. Terutama dalam konteks isu Suriah. Meskipun kedua negara sama-sama  mengupayakan proses Astana, pendekatan dasar kedua negara itu saling bertentangan. Rusia mengizinkan dan mendukung rezim Suriah untuk melakukan serangan, sementara itu Turki mengakhawatirkan akan terjadi krisis pengungsi yang besar. Perbedaan sikap ini dapat merusak hubungan kedua negara tersebut.

Aneksasi orang Turki Krimea dan Rusia menentang kebijakan yang sifatnya serupa yang dilakukan terhadap orang-orang Turki Krimea. Selain itu Turki juga mengembangkan kerjasama dengan Ukraina di berbagai bidang seperti industri pertahanan. Rusia tidak mendukung kebijakan Turki pada isu Ukraina ini. Pendek kata, seberapapun berkembanganya hubungan bilateral antara Turki dan Rusia, Turki tetaplah anggota negara NATO.



Berita Terkait