Analisis Agenda (16)

Kami akan sajikan kajian dari Yazar Can ACUN, Peneliti SETA (Lembaga penelitian Politik, Ekonomi dan Masyarakat)

Analisis Agenda (16)

Rezim Suriah menggunakan senjata kimia untuk melawan kelompok oposisi di Ghouta Timur, dan perhatian dunia internasional teralihkan ke wilayah ini, sementara itu serangan militer internasional yang berada di bawah kepemimpinan AS untuk melawan rezim Suriah tengah dipertontonkan. Serangan itu terjadi pada hari Sabtu malam 14 April.

Serangan militer Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis dilakukan sebagai bentuk "hukuman" untuk rezim Suriah. Jika kita perhatikan diskusi di AS, Trump menuntut operasi militer yang besar, sementara Menteri Pertahanan Mettis dan Pentagon lebih memilih untuk melakukan operasi dalam skala kecil untuk menghindari eskalasi dengan Rusia. Mettis dan Pentagon hanya beraksi sebatas yang mereka perlukan.

Faktanya, Amerika Serikat, Inggris dan Perancis membentuk koalisi untuk melawan rezim Suriah, menargetkan pengaruh Rusia dan milisi Syiah yang bertindak bersama dengan Iran. Pada akhirnya, Amerika Serikat tidak berniat untuk menggulingkan rezim di Suriah. Memang, jelas bahwa operasi besar belum dilakukan, terlepas dari kenyataan bahwa Amerika Serikat memiliki banyak peluang. Selama ekspansi AS periode Obama di Suriah dan di Timur Tengah pada umumnya, Rusia dan Iran memiliki wilayah yang luas, sepertinya kini saatnya untuk merebut wilayah yang telah dikuasai Rusia dan membatasi pengaruh Iran di Suriah.

Penting untuk membatasi Iran ke Israel dan negara-negara Teluk di wilayah tersebut. Memang, Israel, negara-negara Teluk dan Turki tidak menerima kebijakan ekspansionis Iran di wilayah tersebut. Disebutkan bahwa Garda Revolusi Iran, Hizbullah dan milisi Iran yang berada di Suriah telah mencapai 60 ribu. AS telah menargetkan beberapa pangkalan udara utama dengan serangan yang dilakukan akhir-akhir ini, namun secara umum operasi militer AS nampaknya masih dilakukan secara terbatas. Sebelum serangan militer yang dipimpin AS dilakukan, terjadi aksi penyerangan yang dilakukan Iran terutama yang menargetkan Bandara T4 Israel.

Tanggapan Rusia dan Iran terhadap operasi militer dipimpin oleh AS akan semakin jelas pada beberapa hari yang akan datang. Memang, rezim Assad, milisi pro-Iran dan tentara bayaran Rusia telah mencoba untuk menargetkan ladang minyak di wilayah Deyr ez Zor yang berada di bawah kontrol YPG dalam beberapa bulan terakhir. Koalisi Internasional AS memberikan tanggapan keras atas langkah ini, dengan memusnahkan unsur-unsur yang mencoba bergerak dengan menggunakan serangan udara dan tembakan artileri. Namun, setelah operasi militer yang dipimpin oleh AS yang terjadi akhir-akhir ini, muncul kemungkinan bagi Rusia dan Iran untuk meluncurkan operasi militer yang besar di garis wilayah Deyr ez Zor sebagai bentuk balasannya. Dalam hal ini, ada pertarungan yang sengit untuk memperebutkan ladang minyak yang berada di bawah kontrol YPG dan dibuat oleh orang-orang Arab yang ada di wilayah tersebut.

Tapi apa pun reaksi Rusia dan Iran, serangan senjata kimia rezim Assad yang akhir-akhir ini dilakukan, memiliki pengaruh penting pada opini publik internasional. Legitimasi rezim yang menyerang rakyatnya sendiri dengan menggunakan senjata kimia mulai dipertanyakan kembali. Perlu untuk menjatuhkan sanksi/hukuman kepada rezim atas kejahatan perang yang dilakukannya. Turki menyambut baik pemberian sanksi kepada rezim Suriah atas dasar nilai-nilai kemanusiaan, namun di sisi lain Turki tidak menginginkan adanya ketegangan antara Rusia dan AS. Turki memainkan peran mediator antara Rusia dan Amerika Serikat. Dalam isu Suriah, terlihat jelas posisi turki sebagai penyeimbang. 

Upaya diplomatik dan militer antara AS dan Rusia dengan mediasi Turki dilakukan kembali. AS  menuduh proksi Rusia dalam serangan tersebut, sementara itu Rusia menolak adanya intervensinya dalam serangan itu. Mengingat adanya perkembangan dan kemajuan dalam teknologi pertahanan yang dilakukan akhir-akhir ini, tidak mungkin bagi kekuatan internasional untuk menargetkan satu sama lain secara langsung dalam bidang kemiliteran. Selain terjadi perang ekonomi dan cyber, terjadi juga perang proksi. Setelah AS menyerang rekan Rusia, muncul pertanyaan apakan Rusia akan menyerang YPG yang merupakan wakil AS di Suriah.

 

 

Demikian kajian dari Yazar Can ACUN, Peneliti SETA (Lembaga penelitian Politik, Ekonomi dan Masyarakat)



Berita Terkait